Hilyah Thalibil ‘Ilmi – Perhiasan Penuntut Ilmu

Ilmu adalah ibadah yang paling agung, paling utama dan merupakan salah satu bentuk jihad kepada Allah.

Ilmu adalah mutiara paling berharga dalam mahkota syariat yang suci, dan tidak akan şampai kepadanya kecuali orang yang berhias diri dengan adab-adabnya dan membersihkan diri darİ kotoran-kotorannya.

BAB I : Etika Penuntut Ilmu Terhadap Dirinya Sendiri

1. Ilmu adalah Ibadah

Ilmu adalah ibadah yang paling agung, paling utama dan merupakan salah satu bentuk jihad kepada Allah. Ilmu tidak akan bisa dibandingkan dengan apa pun, bagi orang yang tulus niatnya, yaitu berniat untuk mcnghilangkan kebodohan dari dirinya dan orang-orang lain di sekitarnya.

Syarat ibadah yang diterima :
1. Ikhlas
2. I’ttiba

2. Berjalanlah di Atas Manhaj Salafussaleh

Salafi = Menisbatkan diri kepada salaf-manhaj salaf
Ahli Sunnah wal Jamaah = mengikuti jejak langkah rasul.
Ahlussunnah adalah kaum muslimin terpilih, Yang paling baik bagi kemaslahatan manusia. Istiqamahlah dalam jalan ini.

Dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya.” (QS. Al-An’âm: 153)

Jadilah seorang bermanhaj salaf sejati. Ikutilah jalan mereka dan orang-orang yang mengikuti jejak mereka dalam seluruh bidang agama; baik tauhid, ibadah, dan sebagainya, yang berciri khas mengikuti jejak-jejak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam, membiasakan diri mengikuti sunnah, meninggalkan perdebatan dan perseteruan kosong, meninggalkan pergelutan dalam ilmu kalam dan segala hal yang menarik datangnya dosa dan menyimpang dari syariat.

3. Takut Kepada Allah

Seorang pencari ilmu wajib menghiasi lahir maupun batinnya dengan mahkota ketakutan kepada Allah, menjaga syiar-syiar Islam, menolong sunnah, menyebarkannya dengan amal, menyeru manusia kepadanya, menjadi petunjuk menuju jalan Allah dengan ilmu, sifat dan amal perbuatanmu. Selain itu, wajib baginya untuk menghiasi diri dengan sifat jantan, toleran dan akhlak-akhlak yang baik. Dan inti dari semua ini adalah rasa takut kepada Allah.

Peliharalah rasa takut terhadap Allah, baik dalam keadaan tampak, maupun tersembunyi, karena sesungguhnya manusia terbaik adalah mereka yang takut kgpada Allah, dan tidak akan ada orang yang takut kepada-Nya kecuali seorang alim.

Dengan demikian, manusia terbaik di sisi Allah adalah seorang alim. Namun janganlah lupa bahwa seorang berilmu tidak layak disebut alim kecuali setelah ia mengamalkan ilmunya. Dan tidaklah seorang alim beramal berdasarkan ilmunya, kecuali akan tumbuh dalam hatinya perasaan takut kepada Allah. Ilmu yang tidak diamalkan maka akan hilang.

4. Mendawamkan Muraqabah – Selalu merasa diawasi Allah

Hiasilah dirimu dengan selalu merasa diawasi Allah, baik dalam keadaan tampak maupun tersembunyi, seraya berjalan menuju Tuhanmu diantara rasa khauf (takut) dan raja (harap), karena keduanya ibarat dua sayap burung bagi seorang mukmin.

Menghadaplah kepada Allah secara utuh, penuhilah hatimu dengan kecintaan kepada-Nya, basahi lisanmu dengan dzikir kepada-Nya, buatlah hatimu merasa senang, bahagia dan tenteram dengan hukum-hukum dan hikmah Allah Subhanahu wa ta’ala.

5. Rendah Hati, Menghancurkan Sifat Takabur dan Angkuh (sombong)

Hiasilah dirimu dengan adab-adab hati, seperti kehormatan, kebijaksanaan, kesabaran, rendah hati terhadap kebenaran, bersikap tenang, berwibawa dan sanggup menahan semua derita saat belajar untuk kemuliaan ilmu serta tunduk pada kebenaran. Hindarilah sikap angkuh, karena ia adalah sifat munafik dan takabur.

Hati-hatilah kalian dengan racun ketakabburan, karena sesungguhnya sikap takabbur, tamak dan iri dengki adalah dosa pertama yang diperbuat makhluk terhadap Allah.

Perdebatan dengan gurumu adalah takabbur, keenggananmu meraih manfaat dari orang Yang lebih rendah darimu adalah takabbur, dan kekuranganmu dalam mengamalkan ilmu adalah kesombongan dan tanda diharamkannya ilmu itu darimu adalah musuh bagi pemuda yang tinggi hati

Sifat sombong ada 2 macam :
1. Menolak kebenaran
2. Meremehkan manusia lainnya.

Dosa Kemaksiatan :
1. Sombong / Takabur
2. Rakus / Tamak
3. Dengki

6. Qana’ah dan Zuhud

Berhias diri dengan sifat qana’ah adalah salah salu hal terpenting bagi pencari ilmu, yaitu merasa puas dengan apa yang telah diberikan Allah kepadanya. Wajib atasmu bersikap qana’ah, karena ia adalah bekal seorang muslim.

Hakikat zuhud adalah zuhud dalam hal yang haram dan menjauhi ladangnya dengan mengekang diri dari hal yang syubhat, terkesan bahwa yang dimaksud dengan zuhud di sini adalah wara’, karena disana ada istilah wara’ dan zuhud. Adapun zuhud lebih tinggi tingkatannya daripada wara karena wara’ adalah meninggalkan semua hal yang merugikan di akhirat, sementara zuhud meninggalkan apa Yang tidak bermanfaat di akhirat, Keduanya memiliki perbedaan, yaitu pada sesuatu yang tidak bermanfaat dan tidak merugikan, dimana wara’ tidak menjauhi hal ini, sementara zuhud akan menghindari dan meninggalkannya, karena ia hanya menginginkan apa yang bermanfaat bagi kehidupan akhirat.

Imam Syafi’i Rahimahullah berkata – bahwa jika manusia diwasiatkan agar datang kepada orang yang paling berakal, tentulah orang ilu akan ditunjukkan kepada ahli zuhud.

Dari Muhammad bin Jlasan Al-Syaibani dikatakan kepadanya: tidakkah Anda ingin menulis buku dalam masalah zuhud? Beliau menjawab, “aku telah menulis buku mengenai jual beli Maksudnya, orang yang zuhud adalah orang yang menjauhi perkara syubhat, yang makruh dalam berniaga. Demikian pula dalam selurnh muamalah dan profesi.

Dengan demikian wajib atasnya untuk hidup secara wajar, namun tidak terhina, dimana ia bisa menjaga diri dan orang yang menjadi tanggungannya, serta tidak pernah mendatangi tempat-tempat kehinaan dan kerendahan.

7. Berhias Diri dengan Keindahan limu

Seorang penuntut ilmu hendaklah berhias diri dengan memiliki kepribadian baik dan tingkah laku yang terpuji seperti mendawamkan ketenangan, wibawa, khusyuk, tawadhu, fokus kepada tujuan dengan lahir maupun batin serta menjauhkan diri dari hal-hal yang berseberangan dengannya. Mempelajari adab tingkah laku sebagaimana mempelajari ilmu.

Wajib atas pencari hadits untuk menjauhi senda gurau, kesia-siaan, bersikap memalukan di dalam majelis dengan kepandiran, tertawa terbahak-bahak, banyak bergurau dan bercanda. Hal-hal demikian hanya boleh dilakukan sesekali saja dalam porsi yang sedikit dan tidak keluar dari batasan etika dan cara mencari ilmu.

Adapun canda dan kelakar yang buruk, terus-menerus, mengundang kemarahan dan keburukan, maka itu adalah tercela. Terlalu banyak bercanda dan tertawa akan menurunkan wibawa dan menghilangkan kasih sayang.

8. Berhias Diri dengan Muru’ah

Muru’ ah adalah berbuat hal yang memperindah dirinya, menghiasinya, menjauhi perbuatan yang mengotorinya dan merendahkannya

Berhias diri dengan muru’ah dan semua akhlak yang mendorong kepadanya, bermuka cerah, menyebarkan salam, bersabar dałam menghadapi manusia, menjaga harga diri tapi dengan tetap rendah hati, menjaga kemuliaan namun tidak dengan kesewenang-wenangan, memelihara kecerdasan tanpa harus fanatik dan kokoh memegang kebenaran tanpa dikotori karakter jahiliyah.

Singkirkanlah hal-hal yang menodai muru’ah baik dalam tabiat, ucapan atau perbuatan, segala pekerjaan yang hina dan sifat yang buruk seperti ujub, riya, congkak, sombong, meremehkan orang lain dan menelusuri hal-hal yang membuat prasangka.

9. Jadilah Lelaki Pemberani

Penuhi jiwamu dengan sifat ksatria, berani membela kebenaran, kejantanan, akhlak yg baikpemaaf, tidak pemarah,pemberi di jalan kebaikan.

Maka, jauhilah pembatal pembatal sifat kejantanan ini seperti kurang sabar, akhlak yg buruk, semangat yg kurang sehingga semua ini akan merusak ilmu, menghancurkan ilmu dan menghambat lisan untuk mengucapkan kebenaran sehingga lisan akan menjadi tunduk kepada musuh. Adab ini sebagai penyempurna adab yg lain karena termasuk dalam salah satu muru’ah.

10. Meninggalkan Tarafu

Janganlah melepaskan nafsumu dalam bersenang senang, berfoya foya. hiduplah sederhana karena sederhana itu sebagian dari iman. hati hatilah kalian dengan kemewahan karena hal ini tidak sesuai dengan petunjuk nabi.

Dilarang berfoya foya, berjalan tanpa sandal, jangan tertipu dengan makin moderen nya duniakarena hal ini akan melemahkan otot.

Perhiasan dzahir seperti pakaian merupakan tanda kecendrungan seseorang bahkan kerap menjadi identiatas. Hiasan lahir akan menunjukan kecendrungan batin. Bersikaplah sederhana dalam masalah pakaian sesuai dengan syariat dan janganlah dianggap remeh karena pakaian akan menunjukan jati diri kita sebagai seorang muslim.

11. Berpalinglah / Jauhilah majelis yang sia sia

Jangan sekali kali menginjakan kaku di tempat yang banyak kemungkaran karena jika berbuat hal demikian kejahatan atas ilmu dan ahliinya sangat besar.

Majelis kesia-siaan ada2 :
1. Kesia-siaan yg tidak ada faedahnya tapi tidak ada ruginya. Orang yang berakal tidak akan melakukannya.
2. Kesia-siaan yg tidak ada faedahnya dan sangat berbahaya. Termasuk kemungkaran, haram hukumnya. tidak boleh kita lakukan

12. Jauhi sikap suka gaduh dan Riuh

Lindungi diri dari sikap gaduh dan riuh karena kesalahan itu diawali dengan banyaknya berbicara.

13. Menghiasi diri dengan sifat lemah lembut

Berbicaralah dengan lemah lembut, jangan dengan kata kata yg kasar. ucapan yg lembut akan menundukan hati yg liar, karena dengan rahmat Allah kita bisa bersikaplemah lembut.

Rumah tangga yg di rahmati Allah, diberikannya sikap lemah lembut dalam kehidupan rumah tangganya. allah maha lembut dan cinta kelembutan.

14. Suka memperhatikan, Merenung dan Berfikir

Orang yg suka merenung akan dapat memahami, akan mendapatkan ilmu. sifat ini membutuhkan ketenangan. Berbicaralah dengan memperhatikan kata kata, sopan santun dan lemah lembut.

Perhatikanlah apa apa yg akan kita lakukan, sehingga tidak mubazir. menjawab pertanyaan dengan memperhatikan dan dipikirkan apa jawaban yg tepat sehingga tidak terjadi kesalahan.

15. Teguh – tegar – Selektif dalam hal hal yg penting

Kuat dalam berpegang teguh dalam kebenaran. Cek ricek apa apa yg datang kepada kita.Sabar dalam menuntut ilmu dan memanfaatkan waktu luang dengan menuntut ilmu.

 

BAB 2 : Tata Cara Menuntut Ilmu dan Menerima Ilmu

A. Tata cara menuntut ilmu dan tingkatannya

1. Menguasai pokok pokok / dasar dasar ilmu dengan cara mempelajari kitab kitab yang ringkas (pelajari pokok pok nya dahulu). Memahami isi – menghafal – mempelajari sedikit demi sedikit. kalau tdk menguasai dasarnya maka ia tidak akan sampai.
2. Siapa yg mengambil ilmu sekaligus maka akan hilang sekaligus. Yang terpenting adalah kualitas bukan kuantitas.
3. Berdesakan ilmu dalam pendengaran akan menyesatkan pemahaman. jangan mempelajari ilmu sekaligus kecuali memang kita sanggup untuk itu.
4. Maka menguasai pokok ilmu dan dasar ilmu pada setiap ilmu yg kita pelajari itu adalah wajib (penting)
5. Otodidak tidak disarankan karena suka salah dalam pemahaman, banyak ilmu yg terlewat / belum kita pelajari
6. Bertahap dalam menuntut ilmu. Seperti hal nya, Al quran di turunkan secara berangsur angsur, agar hatinya dikokohkan dan membacanya secara tartil.

Hal-Hal Yang perlu diperhatikan dalam menuntut ilmu :

1. Penghafal kitab ringkasan / kunci-kunci ilmu.
2. Menguasai ilmu tersebut didepan syeikh yg menguasai ilmu tersebut. Belajar padaguru yg benar benar menguasai ilmu tersebut.
3. Jangan sibuk dgn kitab kitab yg tebal, sebelum kita menguasai dasar dasar ilmu tersebut.
4. Jangan berpindah dari 1 buku ke buku yg lain tanpa ada alasan
5. Mencatat kaidah kaidah ilmiah. Ikatlah ilmu dengan catatan

#Kumpulkan seluruh tenaga kita, curahkan perhatian untuk menuntut ilmu supaya bisa naik kelas dan sampai pada apa yg kita harapkan.
#Manfaatkan waktu dengan maksimal untuk menuntut ilmu. Adab adab dalam menuntut ilmu juga harus diperhatikan.

#Penuntut ilmu hadist membutuhkan 5 hal, kl hilang salah satunya maka ini adalah kekurangan :

1. Akal / Otak yg encer, IQ yg tinggi. Menuntut ilmu disesuaikan dengan kesanggupannya.
2. Membutuhkan agama yg bagus
3. Membutuhkan kepada penguasaan yg bagus dalam ilmu itu (teliti)
4. Memiliki ketelitian dan kecerdikan
5. Amanah dalam ilmu, kalau dapat faedah dr suatu ilmu kita nisbatkan kepada ilmu tersebut

#Hal hal yg harus dimiliki oleh seorang penuntut ilmu :

1. Ketakwaan
2. Kecerdasan
3. Ilmu Nahwu
4. Menguasai bahasa arab
5. Bersih hati
6. Pemalu
7. Seorang Salafi, yg mengikuti manhaj salaf,para sahabat, ta’biin, tabi’ut tabi’in

#Pentingnya mengambil ilmu dari guru (tidak disarankan otodidak)

Pada asalnya menuntut ilmu harus belajar langsung pada para ustadz. Sanad nya bisa terputus kalau tidak ada guru. Dan duduk di majelis syeikh dan mengambil ilmu langsung dari mulut guru. Kalau kita berguru kita punya nasab/sanad. Hal ini merupakan kesepakatan para ulama. Menuntut ilmu denga berguru tidak hanya ilmu yg kita ambil tetapi mengambil adab adab nya juga.

Siapa yg menuntut ilmu sendirian, biasanya keluarnya sendirian :
1. Belajar otodidak biasanya ilmunya hanya untuk pribadi, tidk bisa dipertanggungjawabkan.
2. Pendapatnya merupakan pendapat pribadi.

Kekurangan menuntut ilmu secara Otodidak :
Banyak perkara yg susah untuk dipahami sendiri, berbeda dengan belajar dengan guru. contoh : kesalahan dalam penulisan

Jangan ambil ilmu dari 2 orang berikut, karena tidak bisa dipertanggungjawabkan – sanadnya terputus.
1. Orang yg belajarnya otodidak
2. Orang yg belajar al quran tanpa guru

-Siapa yg tidak berguru maka keyakinannya dia itu sama dengan sangkaan nya-
-Menuntut ilmu tanpa guru akan tersesat karena banyak hal yg bisa salah dalam memahami ilmu tersebut

Carilah guru yg memenuhi 3 syarat :
1. Menguasai ilmu tersebut. Tidak layak menuntut ilmu kecuali dari orang yg sudah ahli
2. Aqidah dan Manhaj nya lurus, tidak menyimpang
3. Bagus akhlak dan adab nya

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *