Kenapa hilang Nikmat Ibadah Kepada Allah ‘AzzaWaJalla?

Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepadaKu.

QS. Adh-Dhariyat 51:56

وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepadaKu.

QS. Al-‘Ankabut 29:45

إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ تَنْهَىٰ عَنِ ٱلْفَحْشَآءِ وَٱلْمُنكَرِۗ
Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar.

 

Adapun sebab-sebab tidak merasakan nikmat dalam beribadah di antaranya adalah:

[01] Tidak ikhlas dalam beribadah

Lawannya ikhlas adalah riya’, sum’ah, ujub.
Ibadahnya ingin mendapatkan hal-hal duniawi.

[02] Tidak sesuai dengan sunnah Nabi ﷺ (Ittiba’).

🔸 Rasulullah ﷺ bersabda,

صَلُّوْا كَمَا رَأَيْتُمُوْنِيْ أُصَلِّيْ
“Shalatlah sebagaimana kalian melihatku shalat.”(HR. Bukhari 631)

[03] Capek dan letih dalam beraktifitas

Saat datang waktu ibadah, badan kita belum siap.

[04] Kurangnya rasa cinta kepada Allah

🔸 QS. Al-Baqarah 2 : 165

وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَتَّخِذُ مِن دُونِ ٱللَّهِ أَندَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ ٱللَّهِۖ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَشَدُّ حُبًّا لِّلَّهِۗ وَلَوْ يَرَى ٱلَّذِينَ ظَلَمُوٓا۟ إِذْ يَرَوْنَ ٱلْعَذَابَ أَنَّ ٱلْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا وَأَنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلْعَذَابِ
Dan diantara manusia ada orang yang menyembah tuhan selain Allah sebagai tandingan, yang mereka cintai seperti mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Allah. Sekiranya orang-orang yang berbuat zhalim itu melihat, ketika mereka melihat azab (pada hari Kiamat), bahwa kekuatan itu semuanya milik Allah dan bahwa Allah sangat berat azabNya (niscaya mereka menyesal).

[05] Tidak berusaha merenungi makna ayat yang dibaca dan mengetahui tafsirnya

[06] Jarang berdoa kepada Allah agar bisa merasakan nikmatnya beribadah

🔸 Rasulullah ﷺ berdoa,

اللَّهُمَّ أَعِنِّى عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ
Ya Allah, tolonglah aku agar selalu berdzikir/mengingat-Mu, bersyukur padaMu, dan memperbagus ibadah padaMu].”(HR. Abu Daud dan Ahmad, shahih)

[07] Jarang berlindung kepada Allah dari gangguan syaithan dalam beribadah

[08] Tidak selalu merasa diawasi Allah dalam ibadah yang sedang dilakukan

[09] Tidak ada rasa khawatir dan takut, seandainya ibadahnya itu tidak diterima

Harusnya selalu merasa khawatir ibadahnya tidak diterima oleh Allah.

🔸 Ibnu Rajab Al-Hambali berkata,

ﻗَﺎﻝَ ﺑَﻌْﺾُ ﺍﻟﺴَّﻠَﻒُ : ﻛَﺎﻧُﻮْﺍ ﻳَﺪْﻋُﻮْﻥَ ﺍﻟﻠﻪَ ﺳِﺘَّﺔَ ﺃَﺷْﻬُﺮٍ ﺃَﻥْ ﻳُﺒَﻠِّﻐَﻬُﻢْ ﺷَﻬْﺮَ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ، ﺛُﻢَّ ﻳَﺪْﻋُﻮْﻧَﺎﻟﻠﻪَ ﺳِﺘَّﺔَ ﺃَﺷْﻬُﺮٍ ﺃَﻥْ ﻳَﺘَﻘَﺒَّﻠَﻪُ ﻣِﻨْﻬُﻢْ
“Sebagian salaf berkata, “Dahulu mereka (para salaf) berdoa kepada Allah selama 6 bulan agar mereka disampaikan pada Bulan Ramadhan. Kemudian mereka juga berdoa berdoa selama 6 bulan agar Allah menerima (amalan mereka di bulan Ramadhan).”(Latha’if Al-Ma’arif hal. 232)

[10] Tidak menghadirkan hati dan fokus, serta konsentrasi dalam beribadah

[11] Tidak mengingat kebesaran Allah, kekuasaanNya dan juga kebaikan-kebaikanNya

[12] Jarang mengingat kematian, siksa kubur yang dahsyat dan nikmat kubur

🔸 Rasulullah ﷺ bersabda,

أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ
“Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung).”(HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599)

[13] Jarang mengingat nikmatnya surga dan ngerinya siksa hukuman api neraka

[14] Tidak berusaha menyingkirkan hal-hal yang mengganggu konsentrasi; seperti sajadah warna-warni, suara berisik dll

[15] Mengkonsumsi makanan ataupun minuman yang haram atau nafkahnya berasal dari penghasilan yang haram

[16] Tidak berada dibelakang seorang imam yang bacaannya bagus & makmum merasakan rasa takutnya kepada Allah

[17] Tidak memiliki hati yang bersih

🔸 Utsman bin ‘Affan رضي الله عنه berkata,

لو أن قلوبنا طهرت ما شبعنا من كلام ربنا وإني لأكره أن يأتي علي يوم لا أنظر في المصحف
“Sekiranya hati-hati kita suci, maka kita tidak akan pernah kenyang dari ucapan Rabb kita. Dan sungguh aku tidak suka, apabila berlalu satu hari tanpa membaca mushaf Al-Qur’an.” (Al-Baihaqi di dalam Syu’abul Iman V/237)

[18] Banyak berbuat dosa dan maksiat

🔸 Dzun Nun رحمه الله telah berkata,

سَقَمَ الْجَسَدُ فِي الْأَوْجَاعِ وَسَقَمَ الْقُلُوْبُ فِي الذُّنُوْبِ، فَكَمَا لَا يَجِدُ الْجَسَدُ لَذَّةَ الطَّعَامِ عِنْدَ سَقَمِهِ، كَذَلِكَ لَا يَجِدُ الْقَلْبُ حَلَاوَةَ الْعِبَادَةِ مَعَ الذُّنُوْبِ
“Jasad sakit karena penyakit dan hati itu sakit karena dosa. Maka sebagaimana jasad tidak akan dapat untuk merasakan lezatnya makan saat sakit, maka begitu pula dengan hati, dia tidak akan mampu utk mengecap nikmatnya ibadah karena berbagai dosa.” (lihat Shifatus Shafwah IV/316)

🔸 Imam Ibnul Qayyim رحمه الله berkata,

“Tidaklah seorang hamba yg melakukan sebuah dosa, melainkan akan lenyaplah darinya sebuah kenikmatan dari Allah Ta’ala sesuai dengan besarnya dosanya tersebut. Maka jika dia bertaubat serta kembali kepada Allah, niscaya nikmat tersebut, atau yang semisal dengannya nanti akan kembali kepadanya. Namun apabila dia terus menerus berbuat dosa, niscaya nikmat tersebut pun tidak akan kembali kepadanya, serta dosa-dosa itu nanti akan terus melenyapkan sebuah kenikmatan dari seorang hamba hingga mencabut semua kenikmatan.” (Thariiqul Hijratain hal 271)

[19] Cinta dunia yang berlebihan

🔸 Imam Ibnu Taimiyah رحمه الله berkata,

الذكر القلب بمنزلة الغذاء للجسد فكما لا يجد الجسد لذة الطعام مع السقم فكذالك القلب لايجد حلاوة الذكر مع حب الدنيا
“Dzikir bagi hati itu seperti kedudukan makanan bagi jasad, maka sebagaimana jasad tdk akan bisa merasakan lezatnya makanan tatkala sedang sakit, demikian pula hati tdk akan merasakan nikmatnya berdzikir saat bersamaan dengan cinta dunia.”(Majmu’ al-Fatawa IX/312)

[20] Berlebihan dalam makan & minum

🔸 Imam asy-Syafi’i رحمه الله berkata,

“Aku tidaklah pernah kenyang sejak 16 tahun silam kecuali sekedarnya. Karena kekenyangan membuat badan jadi berat, hati menjadi keras, bisa menghilangkan kecerdasan, membuat sering tidur, serta lemah untuk beribadah.” (Siyar VIII/248)

🔸 Imam Ibnul Qayyim رحمه الله berkata,

“Hati yang keras timbul disebabkan oleh empat perkara; jika engkau melampaui kadar kebutuhan (pada) makan dan tidur, berbicara dan bergaul.” (Al-Fawaa-id 182)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *